Minggu, 19 Februari 2017

Kelompok 3 (Isi Makalah) Penerapan TIK dalam Pendidikan Jarak Jauh


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Berdasarkan tujuan nasional bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke 4, yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”, yang dijabarkan dalam pasal 31 ayat (1),  “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Ayat (5), “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”, (UUD 1945 Hasil Amandemen).  Pemerintah berupaya untuk melaksanakan amanat UUD 1945 dan UUN No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan menerapkan Teknologi Informasi dalam dunia pendidikan agar terselenggara pendidikan yang bermutu  bagi setiap warga negara benar-benar terwujud.
Sebelum era globalisasi, sistem pendidikan di Indonesia hanyalah sistem pendidikan konvesional dengan cara tatap muka, dimana pengajar dan pembelajar berada pada satu ruang dan waktu yang sama. Akibatnya, tidak semua masyarakat di Indonesia dapat menikmati pendidikan dan melanjutkan pendidikan mereka  karena keterbatasan waktu, jarak dan biaya. Hal ini sering kali dirasakan oleh mereka yang tinggal di daerah terpencil, di pedalaman, di pegunungan yang terbatas oleh berbagai hal, seperti transportasi.
Namun, perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mulai berkembang pesat diawal tahun 1980-an. Perkembangan ini didukung pula oleh perkembangan prosesor, perkembangan hardware, dan perkembangan software. Hasil dari perkembangan tersebut, sekarang kita mengenal berbagai jenis jaringan yang mengintegrasikan beberapa buah PC. Contoh jaringan yang sering kita jumpai adalah Local Area Network (LAN), Wide Area Network (WAN), dan Internet. Jaringan internet merupakan teknologi informasi yang mampu menghubungan komputer di seluruh dunia, sehingga memungkinkan informasi dari berbagai jenis dan bentuk informasi dapat dipakai secara bersama-sama. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mempengaruhi segenap bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Sehingga proses pembelajaran di Indonesia bukan hanya berlangsung dengan sistem pendidikan konvensional tetapi juga melahirkan sistem pendidikan jarak jauh. Pembelajaran jarak jauh adalah dimana pengajar dan pembelajar tidak berada dalam waktu dan ruang yang sama karena secara geografis terpisah.
Menurut Munir di dalam bukunya yang berjudul “Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi”, ada 4 hal yang melatarbelakangi diselenggarakannya pembelajaran jarak jauh, yaitu: (1) Untuk mengatasi batasan jarak, waktu, tempat; (2) Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi; (3) Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan; (4) Memberikan kesempatan meningkatkan kemampuan tingkat pendidikan. Adapun sasaran dari pendidikan jarak jauh ini adalah (1) Memberikan kesempatan kepada anak bangsa yang belum mengikuti pendidikan yang lebih tinggi, seperti pembelajar yang putus sekolah pada tingkat pendidikan dasar atau pendidikan menengah dan; (2) Memberikan kesempatan kepada para pengajar yang memiliki keterbatasan waktu, tempat pendidikan tinggi yang jauh, atau keterbatasan dana untuk meningkatkan kualitas kemampuan/kompetensinya, seperti berkaitan dengan kemampuan didaktik, metodik dan pedogogik dengan mengikuti pendidikan tinggi.
Sistem pendidikan jarak jauh ini dimaksudkan untuk melayani kebutuhan masyarakat dan mengembangkan serta mendorong terjadinya inovasi berbagai proses pembelajaran dengan berbagai sumber belajar. Selain itu untuk mengatasi kesenjangan antara keterbatasan sumber daya pendidikan dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk memperoleh pendidikan tinggi. Pendidikan jarak jauh ini diharapkan mampu memecahkan masalah tersebut secara memadai dan memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan akses dan pemerataan kesempatan pendidikan tinggi di tanah air. Oleh karena itu, penulis akan membahas penerapan TIK khususnya pada Pendidikan Tinggi Jarak Jauh.

B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.     Bagaimanakah konsep Pendidikan Jarak Jauh?
2.     Bagaimanakah penerapan TIK dalam Pendidikan Tinggi Jarak Jauh?

C.    Tujuan
Adapun tujuan penelitian dalam makalah ini adalah:
1.     Memahami konsep Pendidikan Jarak Jauh
2.     Mengetahui penerapan TIK dalam Pendidikan Tinggi Jarak Jauh



BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Pembelajaran Jarak Jauh
1.     Sejarah Pembelajaran Jarak Jauh Di Indonesia
Di Indonesia pembelajaran jarak jauh (distance learing) merupakan bagian dari pendidikan jarak jauh (distance education) tercantum di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Rumusannya termaktub dalam BAB VI Jalur, Jenjang dan Jenis Pendidikan tentang pendidikan jarak jauh pasal 31 pada bagian ke sepuluh yang berbunyi:
1.     Pendidikan jarak jauh diselenggarakan pada semua jalur, jenjang dan jenis kependidikan.
2.     Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler.
3.     Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standard nasional pendidikan.
4.     Ketentuan mengenai penyelenggaraan pendidikan jarak jauh sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
Diselenggarakannya pendidikan jarak jauh sebagai upaya pemerintah dalam membenahi sistem pendidikan yang tepat, terencana, simultan, dan optimal dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Di Indonesia sebetulnya sistem pembelajaran jarak jauh sudah lama ada, yaitu sejak awal kemerdekaan yang tujuannya untuk mengisi kekosongan tenaga yang diperlukan untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Dimulai pada tahun 1950 hingga sekarang. Pada tahun 1979 diselenggarakan perintisan SMP Terbuka pada 5 lokasi yaitu di Lampung Selatan, Cirebon, Tegal, Jember, dan Lombok Barat. Pembelajaran jarak jauh diselenggarakan pula pada pendidikan tinggi. Pendidikan jarak jauh pada jenjang perguruan tinggi di Indonesia dimulai pada tahun 1984 dengan dibukanya Universitas Terbuka di Jakarta.

2.     Konsep Pendidikan Jarak Jauh
Pembelajaran jarak jauh bukanlah sesuatu yang baru di dunia pendidikan. Proses pembelajarannya biasanya dilakukan dengan mengirimkan berbagai materi pembelajaran dan informasi dalam bentuk cetakan, buku, CD-ROM, atau video langsung ke alamat pembelajar. Selain itu yang dikirimkan secara langsung ke pembelajar adalah urusan administrasi pembelajaran dan manajemen pembelajaran.
Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran antara lain dengan:
1.     Pengajar dan pembelajar mampu mengakses pada teknologi informasi dan komunikasi.
2.     Pengajar memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, karena pengajar berperan sebagai pembelajar yang harus belajar terus menerus sepanjang hayat. Tujuannya untuk meningkatkan profesional dan kompetensinya.
3.     Tersedia materi pembelajaran yang berkualitas dan bermakna (meaningful).
Pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi berlangsung bukan hanya terjadi di satu tempat seperti di sekolah atau perguruan
tinggi, melainkan dapat dilakukan di banyak tempat yang berbeda. Pembelajaran
pun tidak hanya terdiri dari satu orang saja, melainkan banyak melibatkan orang.
Setiap pembelajar dapat belajar pada tempat dan waktu yang berbeda-beda. Cara
belajar dari pembelajar yang tidak terbatas dengan waktu dan tempat itulah yang
disebut dengan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Untuk
itulah lahirlah model-model pembelajaran seperti computer based learning yang memunculkan pembelajaran jarak jauh.

3.     Karakteristik Pembelajaran Jarak Jauh
Karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran jarak jauh antara lain:
1.     Program disusun disesuaikan dengan jenjang, jenis, dan sifat pendidikan.Waktu yang digunakannya pun sesuai dengan sesuai program tersebut.
2.     Dalam proses pembelajaran tidak ada pertemuan langsung secara tatap muka antara pengajar dan pembelajar, sehingga tidak ada kontak langsung antara pengajar dengan pembelajar.
3.     Pembelajar dan pengajar terpisah sepanjang proses pembelajaran itu karena tidak ada tatap muka seperti halnya dalam pembelajaran konvensional, sehingga pembelajar harus dapat belajar secara mandiri.
4.     Adanya lembaga pendidikan yang mengatur pembelajar untuk belajar
mandiri. Pendidikan jarak jauh adalah sistem pendidikan yang menekankan pada cara belajar mandiri (self study). Untuk itu, cara
belajar mandiri pembelajar perlu dikelola secara sistematis. Penyajian
materi pembelajaran, pemberian bimbingan kepada pembelajar, dan
pengawasan serta jaminan keberhasilan pembelajar dilakukan oleh pengajar.
5.     Lembaga pendidikan merancang dan menyiapkan materi pembelajaran,
serta memberikan pelayanan bantuan belajar kepada pembelajar.
6.      Materi pembelajaran disampaikan melalui media pembelajaran, seperti komputer dengan internetnya atau dengan program e-learning.
7.     Melalui media pembelajaran tersebut, akan terjadi komunikasi dua arah (interaktif ) antara pembelajar dengan pengajar, pembelajar dengan pembelajar lain, atau pembelajar dengan lembaga penyelenggara pembelajaran jarak jauh. Inisiatif untuk berkomunikasi datang dari pembelajar atau dari pengajar.
8.     Tidak ada kelompok belajar yang bersifat tetap sepanjang masa belajarnya.
9.     Paradigma baru yang terjadi dalam pembelajaran jarak jauh adalah
peran pengajar yang lebih bersifat fasilitator yang memberikan bantuan atau kemudahan kepada pembelajar untuk belajar, dan pembelajar sebagai peserta dalam proses pembelajaran. Karena itu, pengajar dituntut untuk menciptakan teknik mengajar yang baik, menyajikan materi pembelajaran yang menarik, sementara pembelajar dituntut untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar.
10.  Pembelajar dituntut aktif, interaktif, dan partisipatif dalam proses belajar, karena sistem belajarnya secara mandiri yang sedikit sekali mendapatkan bantuan dari pengajar atau pihak lainnya. Pembelajar yang kurang aktif akan lebih mudah gagal dalam proses belajarnya.
11.  Sumber belajar adalah bahan-bahan yang dikembangkan secara sengaja sesuai kebutuhan dengan tetap berdasarkan kurikulum.
12.  Interaksi pembelajaran bisa dilaksanakan secara langsung jika ada suatu pertemuan. Bisa pula secara tidak langsung dengan bantuan tutor dalam forum tutorial atau pengajar.

4.     Penerapan TIK dalam Pembelajaran Jarak Jauh
Pengertian TIK menurut  kamus Oxford dituliskan bahwa teknologi informasi dan komunikasi adalah studi atau penggunaan peralatan elektronika, terutama komputer, untuk menyimpan, menganalisis, dan mendistribusikan informasi apa saja, termasuk kata-kata, bilangan, dan gambar.
Peranan teknologi informasi dan komunikasi adalah: (1) Menggantikan peran manusia, yaitu dengan melakukan kegiatan otomasi suatu tugas atau proses; (2) Memperkuat peran manusia yaitu menyajikan informasi, tugas, atau
proses: (3) Melakukan restrukturisasi atau melakukan perubahan-perubahan terhadap suatu tugas atau proses.
Beberapa peran teknologi informasi dan komunikasi yang dapat memfasilitasi pembelajaran jarak jauh adalah:
1.     Asynchronous discussion. Pada pembelajaran online, para pembelajar dapat menggunakan waktu disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing di dalam merefleksikan, berdiskusi dan memberikan komentarnya. Kondisi ini dapat meningkatkan kualitas diskusi dan merubah psikologi dan sosiologi komunikasi. Selain itu dapat mengembangkan strategi yang berbeda di dalam pemecahan masalah diantara para pembelajar.
2.     Instructur control of online conference and roles. Dengan konferensi online, pengajar dapat mengendalikan keanggotaan setiap pembelajarnya,
peran pembelajar, dan memungkinkan memantau pelaksanan diskusi. Beberapa kelompok dapat pula mengembangkan online sendiri di dalam berdiskusi lebih lanjut ataupun di dalam berdiskusi dalam melaksanakan tugas, sehingga dapat memfasilitasi suatu team work.
3.     Questions and answer communication protocol: Pengajar dapat melontarkan pertanyaan selama diskusi berlangsung. Pengajar dapat mengendalikan siapa yang sudah menemukan jawabannya dengan mencegah pembelajar lainnya untuk dapat mencontek, sampai mereka sendiri benar-benar menemukan jawabannya.
4.     Anonymity and pen name signatures. Ketika pembelajar bekerja menjadi
bagian dari diskusi yang sedang berlangsung, mereka dapat memanfaatkan pengalaman kehidupan nyata di dunia kerjanya untuk memberikan illustrasi atas pemahaman konsep yang diajarkan oleh pengajar. Misalnya, berupa komentar yang dapat memberikan makna yang lebih kepada pembelajar yang sedang belajar melengkapi apa yang diajarkan oleh pengajar. Selain itu, memungkinkan juga adanya nama samaran sehingga seseorang mampu mengembangkan personalnya tanpa diketahui identitas sebenarnya, dan secara ekstrim sangat berguna di dalam pembelajaran yang mengharapkan adanya permainan peran seperti metode pembelajaran kolaboratif.
5.     Membership status lists. Pemantauan aktivitas seperti membaca dan memberikan respon di dalam komunikasi, memungkinkan pengajar mengetahui apa yang masing-masing pembelajar telah baca dan seberapa up-to-date setiap di dalam forum diskusi. Hal ini memungkinkan pengajar mendeteksi apabila terjadi ada pembelajar yang tertinggal pelajarannya. Kelompok pembelajar kolaboratif dapat mengusahakan setiap orang di dalam tim up-to-date. Setiap pembelajar dapat dengan mudah membandingkan frekuensi dan kontribusi relatifnya bagi pembelajar lainnya di dalam pembelajaran.
6.     Voting. Akses yang mudah di dalam kelompok ataupun individual untuk memberikan pendapatnya dapat pula dalam bentuk voting. Voting tidak hanya digunakan ketika membuat keputusan, lebih kepada fungsinya untuk mengeksplor (menggali) dan menemukan yang disepakati dan apa yang tidak disepakati atau ketidakpastian, sehingga kelas dapat secara fokus melanjutkan diskusi. Dimungkinkan pula pembelajar merubah pendapatnya kapan saja selama diskusi berlangsung.
7.     Special purpose scaling methods. Metode yang berguna ini dapat menunjukkan kesepakatan kelompok yang sesungguhnya dan meminimalkan ambiguisitas. Ada suatu sistem yang memungkinkan setiap pembelajar pada akhir pembelajarannya mengungkapkan apa yang mereka pikirkan paling penting dari apa yang sudah dipelajarinya.
8.     Information overload. Hal ini dapat terjadi jika antusiasme pembelajar
di dalam diskusi sangat tinggi, dengan banyaknya pembelajar saling
memberikan komentar, sehingga terjadi kelebihan informasi. Masalah
ini dapat diatasi dengan membatasi ukuran kelompok yang dapat ditangani oleh media teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan.

B.    Pendidikan Tinggi Jarak Jauh
1.     Bahan Ajar Dalam Pendidikan Tinggi Jarak Jauh
a.     Pengembangan Bahan Ajar Pendidikan Tinggi Jarak Jauh
Dalam konteks pendidikan tinggi jarak jauh (PTJJ) seperti Universitas Terbuka (UT), bahan ajar menempati posisi strategis yang sangat vital. Pembelajaran mahasiswa dijembatani oleh bahan ajar baik cetak maupun non cetak.
Mengingat kompleksitasnya, pengembangan bahan ajar PTJJ pada umumnya dilakukan oleh satu tim bahan ajar yag terdiri dari lima unsur dengan tugas yang berlainan, yaitu: 1. Ahli materi yang menulis dan menelaah substensi materi, 2. Spesialis media yang memproduksi media yang mendukung atau melengkapi bahan ajar cetak seperti audio, video, pembelajaran berbantuan komputer (PBK), 3. Ahli teknologi pendidikan yang membantu penataan struktur isi, klasifikasi tujuan, seleksi media, aktivitas siswa, dan evaluasi, 4. Editor yang menyunting teks, dan 5. Manejer pengembangan mata kuliah yang menjaga proses pengembangan dan produksi bahan ajar berjalan seperti yang diharapkan.
Mengingat misi strategis yang diembannya, bahan ajar PTJJ seyogyanya memiliki sekurang-kurangnya dua karakteristik, yaitu lengkap dan membelajarkan diri pembelajar. Karakteristik lengkap mengharuskan suatu bahan ajar PTJJ menyediakan segenap materi bahan ajar yang perlu dikuasai mahasiswa dan memungkinkannya untuk mancapai tujuan dan kompetensi suatu mata pelajaran. Sementara itu, karakteristik membelajarkan diri mahasiswa, menuntut bahan ajar PTJJ agar dapat merangsang dan mendukung terbentuknya pengalaman belajar mahasiswa yang berkualitas secara mandiri serta proses belajar yang dilakukannya.
Secara umum mahasiswa PTJJ, mahasiswa UT pun sangat heterogen. Maka tak kalah pentingnya dipahami oleh penulis adalah kultur dan kemampuan belajar umumnya mahasiswa, dan yang juga harus diperhatikan oleh penulis dalam mengembangkan bahan ajar adalah untuk peruntukan jenjang program. Untuk mahasiswa jenjang program apa bahan ajar ditulis, karena terkait dengan kedalaman dan keluwesan dari bahan ajar tersebut.
Ada empat cara yang dapat ditempuh untuk mengembangkan bahan ajar PTJJ, yaitu: 1) mengkompilasi berbagai bahan yang telah tersedia, 2)  menggunakan satu atau beberapa buku teks yang telah tersedia dipasaran, 3) menggunakan buku teks dan atau referensi lain yang telah tersedia dipasaran tetapi isi buku itu diolah ulang, dan 4)  mengembangkan sendiri bahan ajar yang untuk mahasiswa PTJJ.

b.     Pengembangan Bahan Ajar Multimedia
Setiap komponen media merangsang satu atau lebih indera manusia. Teori Kroehnert mengatakan bahwa semakin banyak indera yang terlibat dalam proses belajar, maka proses belajar tersebut akan lebih efektif. Secara tegas teori ini menyarankan penggunaan lebih dari satu indera manusia.Oleh karena itu pemanfaatan multimedia dalam proses pembelajaran dapat diharapkan meningkatkan hasil belajar. Terdapat beberapa aspek dalam mengembangkan multimedia, aspek-aspek yang telah dikemukakan Bates berikut ini perlu diperhatikan:a) aksesibilitas media, b) biaya, c) efektivitas dalam pembelajaran, d) interaktivitas, e) pendekatan dalam pengembangan. Peralatan minimal untuk pengembangan bahan ajar multimedia adalah sebuah komputer multimedia seperti, sebagai berikut:
a.    Perangkat keras tambahan, seperti kamera digital, kamera video, dan scanner.
b.   Perangkat lunak, seperti perangkat lunak pengolah gambar, perangkat lunak pengolah suara,perangkat lunak pengolah animasi, pengolah data video, pengkonversi data digital, perangkat lunak pengintegrasi komponen bahan ajar.
Hal pertama yang dilakukan dalam pengembangan bahan ajar multimedia adalah pengembangan bahan ajar yang dilakukan oleh tim. Dengan asumsi bahwa bahan ajar ajar atau naskah bahan ajar yang akan dikembangkan telah siap, maka tim pengembang bertemu untuk menyusun rencana bahan ajar multimedia yang akan dikembangkan. Tahap ini adalah tahap di mana menentukan media pada tiap-tiap bagian dari bahan ajar.
Setelah penentuan media dari tiap-tiap bahan ajar yang perlu dilakukan selanjutnya oleh tim adalah menentukan bagaimana media akan dipakai secara rinci atau apakah yang akan disampaikan melalui media-media yang telah diidentifikasi. Akhir dari tahapan perencanaan ini adalah dokumen rencana pengembangan bahan ajar multimedia yang akan menjadi bahan acuan bagi tiap-tiap anggota tim dalam mengerjakan bagian-bagian yang menjadi tanggung jawabnya.
Sebelum bahan ajar multimedia didistribusikan, dilakukan uji coba dan evaluasi oleh tim. Setelah dinyatakan lulus oleh tim, bahan ajar multimedia dievaluasi oleh pihak di luar tim.

c.    Pengembangan Dan Pemanfaatan Bahan Ajar Suplemen Dalam Pendidikan  Tinggi Jarak Jauh
Salah satu karakteristik penting dari penyelenggaraan pendidikan jarak jauh (PJJ) adalah terpisahnya secara fisik antara individu yang belajar dengan sumber yang belajar. Dalam sistem ini, peran bahan ajar menjadi sangat vital karena bahan ajar tersebut memuat materi ajar yang harus dipelajari oleh siswa untuk mencapai kompetensi yang diinginkan.
Jenis bahan ajar yang digunakan dalam penyelenggaraan SPJJ pada umumnya dapat dapat digolongkan menjadi bahan ajar utama dan bahan ajar suplemen. Bahan ajar utama adalah bahan ajar yang dijadikan sebagai acuan utama untuk mempelajari isi atau materi pelajaran. Sedangkan isi bahan ajar suplemen adalah materi ajar yang digunakan untuk menambah wawasan dan pemahaman siswa dalam mempelajari materi ajar yang yang terdapat dalam bahan ajar utama.
Jenis bahan ajar yang dapat digunakan sebagai suplemen untuk mempelajari bahan ajar utama yang digunakan dalam PJJ, yaitu: a) bahan ajar cetak, b) bahan ajar radio/audio, c) bahan ajar video/televisi, d) bahan ajar laboratorium dan kid, e) pembelajaran berbasis komputer. Bahan ajar suplemen yang digunakan dalam PJJ pada umumnya mempunyai beberapa fungsi, yaitu: 1) memperluas wawasan pengetahuan siswa, 2)  memberi contoh aplikasi konkrit, 3) sebagai sarana latihan dan praktek, 4) membantu sisiwa mempelajari konsep-konsep yang sulit.
Untuk membuat bahan ajar suplemen dalam PJJ, pada dasarnya diperlukan beberapa tahap kegiatan, yaitu: a) penilaian kebutuhan belajar siswa, b) menentukan tujuan utama pembuatan bahan ajar suplemen, c) penentuan jenis bahan ajar, d) menentukan tujuan instruksional, e) menentukan startegi pembelajaran, f) menulis bahan ajar suplemen, g) evaluasi bahan ajar suplemen, h) revisi dan implementasi.
Agar bahan ajar suplemen dapat dimanfaatkan secara optimal dalam penyelenggaraan PJJ, pengembangan dan produksinya perlu melibatkan sejumlah personel yaitu, penulis bahan ajar, perancang instruksional, serta ahli materi. Ketiganya melakukan kolaborasi untuk menghasilkan bahan ajar yang dapat membantu aktivitas belajar siswa yang mengikuti program PJJ.
  
d.   Media Kaset Audio Interaktif Dalam Sistem Pendidikan Jarak Jauh
Pada umumnya, lembaga penyelenggara SPJJ menyediakan media bantu yang beragam yang dikemas dalam bentuk bahan non cetak seperti, audio dan video, bahkan program komputer. Implementasi bentuk-bentuk interaksi dari program radio dan kaset audio interaktif dalam pembelajaran melalui SPJJ bervariasi. Hingga saat ini, program radio dan kaset audio interaktif yang dikembangkan Universitas Terbuka (UT) menerapkan beberapa bentuk interaksi pada program-program radio dan kaset audio, terutama bentuk interaksi langsung pada saat siaran program radio atau kaset audio berlangsung. Hal ini diharapkan dapat memberikan iklim keakraban pada saat para mahasiswa melakukan proses belajar mandiri dengan para tutor atau pembimbing mereka.
Ada dua teknik penyajian materi dalam program audio interaktif yaitu penyajian tertutup dan terbuka. Pada bentuk penyajian tertutup. Pada bentuk penyajian tertutup, para pendengar diharapkan memberikan satu respon atau jawaban yang benar, sedangkan pada penyajian terbuka pendengar diharapkan memberi respon atau jawaban lebuh dari satu yang semuanya bisa benar.

2.     Lingkungan Belajar Pendidikan Tinggi Jarak Jauh
Penggunaan jaringan elektronik untuk interaksi belajar semakin berkembang pesat. Jaringan internet memungkinkan berbagai bentuk interaksi dan pertukaran informasi/pengetahuan antarindividu yang terpisahkan oleh jarak atau waktu. Inilah yang telah dan masih dimanfaatkan oleh pengguna dari kalangan pendidik untuk dapat berinterkasi dan bertukar informasi/ pengetahuan dengan peserta didik yang terpisah oleh jarak/waktu. Berikut ini adalah lingkungan belajar yang mendukung pendidikan tinggi jarak jauh, yaitu:

a.     Jaringan Belajar
Berdasarkan buku yang berjudul “Pendidikan Tinggi Jarak Jauh” Winataputra, Sugilar, dan Hardhono menjelaskan bagaimana membangun jaringan belajar. Belajar memiliki arti sebagai proses psikologis yang terjadi dalam individu dan mempunyai dimensi sosial, karena melakukan interaksi timbal balik antara aspek-aspek personal dengan lingkungan. Namun, belajar dalam masyarakat semakin lama semakin kompleks karena perkembangan dari ilmu, teknologi dan seni. Manusia tidak lagi hanya belajar secara langsung dari manusia lain tetapi belajar dengan berbagai cara dari berbagai produk ilmu, teknologi, dan seni.
Konsep dan paradigma belajar pun berkembang pesat, tidak lagi terbatas pada interaksi personal dan sosial tatap muka, karena setelah ditemukannya berbagai perangkat keras dan lunak dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi, kendala ruang dan waktu pun sudah dapat diatasi. Sehingga konsep belajar jarak jauh ini merupakan alternatif belajar yang sangat menjanjikan sebagai wahaya pemberdayaan dan pembudayaan manusia.
Oleh karena itu, jaringan belajar merupakan salah satu alternatif belajar yang kini mulai banyak dikembangkan. Menurut Levin, lima komponen belajar (struktur, proses, mediasi, pengembangan komunitas belajar, dan dukungan institusi) merupakan faktor yang menetukan berhasil-tidaknya suatu kegiatan jaringan belajar berbasis internet. Sistem jaringan belajar yang dinamakan SatEX (http://www.ed.uiuc.edu/courses/SATEX).

b.     Perpustakaan
Wahyono mengatakan bahwa untuk mendukung kegiatan di lapangan, UT didesain menjadi sebuah perguruan tinggi dengan mata rantai jaringan yang meliputi seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia. Dengan jaringan ini, UT dapat memanfaatkan fasilitas yang  dimiliki perguruan tinggi, baik fasilitas sumber daya manusia (materi bahan ajar, tutorial, fasilitas pengelolaan UPBJJ memanfaatkan tenaga ahli yang dimiliki oleh perguruan tinggi negeri), maupun fasilitas perpustakaan (perpustakaan dimanfaatkan untuk memberikan layanan perpustakaan kepada mahasiswa UT). UT bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional dan jajarannya di 26 Provinsi untuk memberikan pelayanan bahan pustakan kepada mahasiswa. Namun, perpustakaan UT tidak mungkin mengembangkan perpustakaan dengan model konvensional, sehingga UT mengembangkan perpustakanan elektronik atau perpustakaan digital. Tahun 2002 UT perpustakaan UT bergabung dalam Indonesian Digital Library Network (IDLN), sehingga akses mahasiswa terhadap sumber informasi menjadi semakin luas. Selain itu suplemen bahan ajar dapat diperoleh secara gratis melalui internet dengan alamat www.ut.ac.id. Jenis layanan yang diberikan secara jarak jauh meliputi layanan bibliografi, layanan referensi, layanan penelusuran, dan layanan fotokopi, serta melayani pemesanan buku online dan perpanjangan peminjaman buku secara online khusus untuk staf UT.

c.      Pembinaan Kelompok Belajar
Menurut Irma Adnan, kelompok belajar mempunyai peranan penting dalam meningkatkan prestasi akademik mahasiswa. Tujuan dari pembentukan kelompok belajar adalah sebagai berikut:
a.      Menciptakan sarana komunikasi dan sosialisasi antar mahasiswa
b.     Meningkatkan motivasi belajar mahasiswa
c.      Meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mahasiswa
d.     Menumbukan rasa kebersamaan
Pembinaan kelompok belajar dimaksudkan agar keberadaanya dapat dipertahankan dan kelompok belajar dapat berfungsi lebih baik lagi. Pembinaan kelompok belajar dilakukan dengan cara sosialisasi program-program kemahasiswaan dan pengarahan-pengarahan kepada kelompok belajar, memberikan informasi kepada kelompok belajar melalui suatu jaringan, baik secara tertulis maupun secara elekronik, serta mendorong dan membantu pembentukan perpustakaan kecil yang menyediakan buku-buku bacaan wajib yang harus dibaca mahasiswa.

d.     Peran Forum Kerja Sama Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam Mendukung Program Pendidikan Tinggi Jarak Jauh
Mahfut Aslam mengatakan bahwa UT perlu meningkatkan mutu pendidikannya dengan cara melengkapi fasilitas koleksi dan layanan peprustakaan yang memadai untuk mununjang kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat yang selama ini dirasakan masih kurang.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di UT adalah menjalin kerja sama antara UT dengan Forum Kerja Sama Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri (FKP2TN) yang sudah dilakukan selama ini.
Adapun tujuan dibentuknya FKP2TN adalah: (1) Meningkatkan  pemenuhan kebutuhan informasi pengguna perpustakaan anggota; (2) Meningkatkan pemanfaatan koleksi perpustakaan anggota; (3) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia peepustakaan anggota: (4) Meningkatkan pemasukan pendapatan perpustakaan anggota; (5) Sebagai “kelompok mitra pendamping” pemerintah. Fasilitas dan layanan perpustakanan anggota FKP2TN adalah koleksi buku teks, koleksi rujukan, jurnal/majalah ilmiah dan karya ilmiah dosen/mahasiswa yang kesemuanya dalam bentuk cetak. Ada juga jurnal teks lengkap online, jurnal elektronik, koleksi audio, multimedia dan hiburan.
Sangat besar peranan FKP2TN dalam mendukung program pendidikan jarak jauh di UT, yaitu meningkatkan kualitas pendidikan dan meningkatkan pemasukan dana bagi UT melalui biaya Kartu Sakti sebesar Rp 5.000 (Kartu Sakti adalah kartu anggota perpustakaan yang dikeluarkan oleh FKP2TN yang dapat digunakan untuk akses ke semua perpustakaan PTN yang digabungkan dalam FKP2TN).

3.     Dampak Pembelajaran Pendidikan Tinggi Jarak Jauh
a.   Evaluasi Hasil Belajar di Universitas Terbuka
Evaluasi hasil belajar merupakan komponen penting dalam kegiatan mengajar dan belajar. Tanpa evaluasi hasil belajar kemajuan dan keberhasilan belajar mahasiswa, sulit untuk diukur. Peran evaluasi hasil belajar semakin menonjol dalam sistem Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (PTJJ) karena interaksi fisik antara pengajar dan mahasiswa sangat kurang dibandingkan dengan interaksi antara mahasiswa sangat kurang dibandingkan dalam sistem pendidikan konvensional.
Jenis-jenis evaluasi hasil belajar dalam dunia pendidikan dilaksanakan pada sektor pendidikan formal umumnya di kelompokkan menjadi dua jenis, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Alat ukur yang akan digunakan dalam kegiatan evaluasi hasil belajar harus dikembangkan melalui pengembangan soal ujian yang berkualitas, yaitu dengan melakukan penganalisisan kompetensi, pengembangan kisi-kisi, dan pengembangan soal secara benar. Saat ini dikenal dua macam tes yang umum dilaksanakan, yaitu ujian tulis dan ujian berbantuan komputer atau online testing.
Penilaian merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam evaluasi hasil belajar mahasiswa. Fungsi penilaian pada dasarnya ada tiga, yaitu untuk mengukur keberhasilan belajar mahasiswa, mengevaluasi efektivitas mengajar dosen, dan memberikan umpan balik kepada mahasiswa. Laporan nilai per semester di UT diberikan dalam bentuk Daftar Nilai Ujian (DNU). Sedangkan laporan nilai keseluruhan selama mahasiswa belum lulus disebut Laporan Kemajuan Akademik Mahasiswa (LKAM).
  
b.   Dampak Inovasi Tutorial Elektronik terhadap Peran Tutor pada Pendidikan Tinggi jarak Jauh
Perkembangan dan perubahan yang terjadi terus-menerus dalam berbagai aspek kehidupan menuntut berbagai perubahan pada perguruan tinggi. Pendidikan jarak jauh, yang semula dianggap suatu bentuk inovasi dalam bidang pendidikan, tidak terelakan pula harus menghadapi perubahan yang terjadi dengan munculnya berbagai inovasi baru. Proses pengajaran pada pendidikan jarak jauh membutuhkan keterampilan mengajar yang berbeda dengan pengajaran pada pendidikan tatap muka. Pendidkan jarak jauh, pengajaran atau staf akademik mempunyai fungsi sebagai ahli materi atau penulis materi ajar, orang yang menyiapkan materi belajar dan mempresentasikannya melalui berbagai media, dan sebagai fasilitator.
Berbagai pelatihan yang diadakan UT untuk staf akademik di UT menunjukkan bahwa UT sebagai institusi pendidikan jarak jauh berusaha membekali stafnya dengan berbagai keterampilan yang dibutuhkan. Tutorial elektronik di UT dibedakan menjadi tutorial berbantuan media audio-video seperti radio atau televisi dan tutorial berbantuan komputer. Tutorial berbantuan komputer pun dibedakan menjadi pembelajaran berbantuan komputer dan internet. Belajar-e merupakan bentuk inovasi media pada pendidikan tinggi jarak jauh. Penerapan belajar-e dalam proses pembelajaran di UT dikenal dengan nama tutorial elektronik atau turorial on-line. Penerapan tutorial elektronik masih dalam taraf pengembangan yang merupakan suatu bentuk perubahan pendidikan.

c.    Dampak Sistem Pendidikan Tinggi Jarak Jauh terhadap Pengembangan Mahasiswa dan Lulusannya
Dalam mengikuti segala kegiatan belajar di PTJJ, mahasiswa harus bergantung kepada inisiatif, kemauan dan kemampuan untuk belajar mandiri yang tinggi. Tanpa itu, akan sangat berat bagi mahasiswa untuk dapat melewati jenjang yang ada di PTJJ. Karena itu, mahasiswa PTJJ harus melakukan penilaian atas kemajuan belajar masing-masing. Seperti yang dituntut pada bahan ajar tertulis, setelah melakukan kegiatan belajar tertentu, mahasiwa harus menjawab tes formatif. Hasil tes ini merupakan indikator keberhasilan mahasiswa dalam mempelajari kegiatan belajar tersebut.
Oleh karena itu, dampak PTJJ pada mahasiswanya adalah PTJJ melatih mahasiswa nya untuk mampu memunculkan motivasi dalam belajar secara mandiri. Pada umumnya mahasiswa PTTJ didominasi oleh orang dewasa secara usia dan untuk orang yang sudah bekerja. sehingga mereka tidak harus selalu bertatap muka dengan dosen, seperti di PT tatap muka. Orang-orang yang sudah bekerja pun dapat mengikuti kegiatan belajar-mengajar seperti di PT tatap muka. PTJJ merupakan alternatif bagi yang tidak memiliki waktu belajar sudah tentu yang dapat digunakan untuk menambah wawasan dan pengetahuan formal. Mereka yang termasuk pada kategori ini adalah para pekerja, dan pendidik yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Tampaknya masih muncul keraguan tentang mutu lulusan PTJJ, padahal waktu yang digunakan oleh mahasiswa untuk belajar tidaklah berbeda banyak. Perbedaan yang signifikan tampak pada lamanya waktu menyelesaikan studi.


BAB III
PENUTUP

     A. Kesimpulan

Penerapan teknologi infotmasi dan komunikasi dalam pendidikan jarak jauh merupakan pengetahuan terkini yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternative dalam melaksanakan proses belajar mengajar terutama di lingkungan pendidikan tinggi. Melalui tekhnologi ini dapat dijadikan sebagai motivasi belajar sekaligus perantara yang dpat digunakan dalam proses belajar. Segala keterbatasan dalam proses penerapannya masih memerlukan pantauan agar proses penggunaan TIK jarak jauh ini dapat memberikan kontribusi pembelajaran yang tepat sasarn dan sesuai dengan fungsi dari tekhnologi tersebut, serta memiliki nilai etika yang dapat dipertanggung jawabkan secara moral dalam proses penggunaannya. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mempengaruhi bidang pendidikan, sehingga proses pembelajaran di Indonesia bukan hanya berlangsung dengan sistem pendidikan konvensional tetapi juga melahirkan sistem pendidikan jarak jauh. Manfaat dari pendidikan jarak jauh ini adalah untuk mengatasi batasan jarak dan waktu, pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan serta memberikan kesempatan meningkatkan kemampuan tingkat pendidikan.

     B. Saran
Dewasa ini teknologi dan ilmu pengetahuan telah berkembang pesat. Indonesia sebaiknya segera mengembangkan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) ini secepatnya, daripada lembaga asing yang menyelenggarakannya, mengingat dampak positif yang dirasakan bagi masyarakat Indonesia dari PJJ ini.
Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak orang yang menggunakan teknologi dan pengetahuan secara menyimpang maka hal ini yang menyebabkan bencana pada manusia itu sendiri. Dengan didukung oleh teknologi yang modern dan perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat seharusnya manusia memanfaatkan hal tersebut sebaik mungkin dan dapat berpikir kreatif agar memperoleh sesuatu yang diharapkan. Penerapan TIK jarak jauh merupakan imbas dari berkembangnya tekhnologi, oleh sebab itu penggunaan tekhnologi secara bijak oleh berbagai unsur pendidikan tetap diperlukan.



DAFTAR PUSTAKA

Ashandimitra, dkk. 2004. Pendidikan Tinggi Jarak Jauh. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Lies Sudibyo. 2011. Peranan dan Dampak Teknologi Informasi dalam Dunia Pendidikan di Indonesia. [Online].  Jurnal Widyatama No. 2/ Volume 20. http://download.portalgaruda.org/article.php?article=268282&val=7107&title=Peranan%20dan%20Dampak%20Teknologi%20Informasi%20%20dalam%20Dunia%20Pendidikan%20di%20Indonesia. Diakses pada tanggal 10 Februari 2017 pukul 13:55.

Munir. 2009. Pembelajaran Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta.

Surajiyo. 2007. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia.Jakarta: Bumi Aksara.


Kelompok 3. (Cover) Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi Jarak Jauh

PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI JARAK JAUH
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teknologi Informasi dan Komunkasi dalam Pendidikan  
Dosen : Dr. Robbinson Situmorang




 Oleh:
Eka Nurmala Annisa              7516167266
Iis Verawati                            7516168000
Anggita Maharani Rambe      7516168264
Khadijah Ath-thahirah           7516168266
Neny Nur’aini                         7516167269




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2017 



Kata Pengantar
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan. Makalah ini disajikan sedemikian rupa agar mudah dimengerti maksud dan tujuannya, sesuai dengan ketentuan penyusunan makalah yang telah disepakati bersama. Semoga makalah ini berguna bagi para pembacanya, dan mampu memberikan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap kegunaan teknologi informasi dan komunikasi dlam pendidikan.
Agar makalah ini memenuhi harapan dalam proses perkuliahan, maka penulis sangat mengharapkan keikhlasan dari para pembaca ataupun para pendidik, para pengguna, dan pencinta ilmu untuk memberikan saran dan masukan yang bersifat membangun. Atas segala perhatian semua pihak, penulis ucapkan terima kasih banyak, semoga makalah ini dapat memberikan makna dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

          Jakarta, 20 Februarai 2017
                                                       Tim Penulis,
                                                                      










DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR  ......................................................................................      ii
DAFTAR ISI  ....................................................................................................     iii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................     1
A.    Latar Belakang .......................................................................................   1
B.    Rumusan Masalah...................................................................................   1
C.    Tujuan.................................................................................................. .     2
BAB II PEMBAHASAN....................................................................................    3
A.    Pembelajaran Jarak Jauh.......................................................................      3 
B.    Pendidikan Tinggi Jarak Jauh.................................................................     6
BAB III PENUTUP............................................................................................    13
A.    Simpulan ...............................................................................................    13
B.    Saran......................................................................................................     13
DAFTAR PUSTAKA  ......................................................................................     14




Catatan :
Isi Makalah Kami Buat di Post Berbeda







Minggu, 25 Mei 2014

PENYUSUNAN RENCANA PEMBELAJARAN

Bagi seorang pendidik menyusun rencana pembelajaran bagi anak usia dini merupakan sebuah tantangan khusus, karena anak-anak usia ini penuh dengan energi dan memiliki keingintahuan alamiah tentang dunia mereka serta antuasiasme untuk belajar dan menjelajahi hal-hal baru. Karena itulah dalam menyusun rencana pembelajaran harus sarat dengan kegiatan-kegiatan main yang mampu menarik perhatian mereka, penuh dengan kebebasan bereksplorasi dan berkreativitas. Rencana pembelajaran merupakan gambaran kegiatan yang akan dilakukan dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran lembaga. Di dalam rencana pembelajaran termuat aktivitas secara keseluruhan sebelum kegiatan yang sesungguhnya dilaksanakan. Rencana pembelajaran yang disusun secara baik menjadi jaminan separuh kegiatan telah berhasil dilaksanakan. Sebaliknya bila pendidik gagal merencanakan sama halnya dengan merencanakan kegagalan. Rencana pembelajaran yang efektif digambarkan dengan indikator berikut: a. Anak terlibat aktif b. Tujuan dijabarkan dengan jelas dan terukur c. Aktivitas penyajian materi/isi kurikulum dilakukan dengan cara belajar melalui bermain yang bermakna, terfokus dan merupakan perubahan yang disengaja d. Dibangun dari pengalaman belajar sebelumnya e. Menyeluruh (mencakup proses pembelajaran, metode, media, evaluasi, dll) f. Ditujukan untuk kepentingan anak. Rencana pembelajaran disusun dengan cara menjabarkan aspek-aspek perkembangan yang ada dalam Menu Pembelajaran Generik atau dalam Tingkat Pencapaian Perkembangan pada Standar Nasional PAUD. Menu Pembelajaran Generik berisi standar perkembangan yang diharapkan dicapai anak pada usia tertentu. Aspek perkembangan tersebut mencakup Agama dan Nilai Moral, Fisik, Kognitif, Bahasa, Sosial-Emosi dan Seni. Pertumbuhan dan perkembangan anak disusun berdasarkan kelompok usia anak: 0 – 1 tahun, 1 – 2 tahun, 2 – 3 tahun, 4 – 5 tahun, dan 5 – 6 tahun. Tingkat Pencapaian Perkembangan pada Standar Nasional PAUD menjabarkan tentang pertumbuhan dan perkembangan yang berhasil dicapai anak pada suatu tahap tertentu. Pertumbuhan dan perkembangan yang dicapai merupakan integrasi aspek fisik (motorik kasar dan halus), kognitif, bahasa, sosial-emosional, serta pemahaman moral dan agama. Tingkat pencapaian perkembangan disusun berdasarkan kelompok usia anak: 0 – < 2 tahun, 2 – < 4 tahun dan 4 – ≤ 6 tahun. Pengelompokan usia 0 – < 1 tahun dilakukan dalam rentang tiga bulanan karena pada tahap usia ini, perkembangan anak berlangsung sangat pesat. Pengelompokan usia 1 – < 2 tahun dilakukan dalam rentang enam bulanan karena pada tahap usia ini, perkembangan anak berlangsung tidak sepesat usia sebelumnya. Untuk kelompok usia selanjutnya, pengelompokkan dilakukan dalam rentang waktu pertahun. Bila dicermati baik pada Menu Pembelajaran Generik maupun Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak Standar Nasional PAUD mencantumkan semua aspek perkembangan yang berhasil dicapai anak pada usia tertentu. Sedikit berbeda pada rumusan Tingkat Pencapaian Perkembangan, aspek perkembangan Seni diintegrasikan pada semua aspek perkembangan yang ada. Dengan demikian, pendidik dapat mengacu pada kedua standar ini. Rencana pembelajaran digunakan untuk memberi arahan dalam menyiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran anak. Rencana pembelajaran yang tepat akan memberikan dukungan yang tepat sesuai dengan kebutuhan belajar dan tahap perkembangan anak. Oleh karena itu, rencana pembelajaran perlu dievaluasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Rencana pembelajaran anak usia dini harus menyeluruh (mencakup semua aspek perkembangan), seimbang (antara aspek perkembangan satu dengan lainnya), dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana pembelajaran yaitu: a. Mengembangkan semua aspek perkembangan b. Memuat tujuan pembelajaran berdasarkan pada minat dan kebutuhan anak c. Kegiatan yang direncanakan membangun pengalaman anak baik bekerja secara individu maupun dalam kelompok d. Memuat ragam pilihan kegiatan main yang mendukung main sensorimotor/main yang menggunakan indera dan motorik, main peran, dan main pembangunan/main yang menghasilkan karya e. Mendukung kegiatan main yang menyenangkan, menantang, bermakna, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari f. Berbasis pada agama, budaya setempat dan mengenalkan ragam budaya dalam kegiatan yang sesuai g. Mengembangkan wawasan anak tentang diri, keluarga dan lingkungan sekitarnya h. Mendukung keterlibatan orang tua Langkah-langkah Penyusunan Rencana Pembelajaran Penyusunan rencana pembelajaran dilakukan dalam beberapa langkah seperti berikut: Enam langkah yang harus diperhatikan dalam penyusunan rencana pembelajaran di atas saling terkait satu dengan lainnya, sehingga tidak dapat menghilangkan satu langkah, dan melompat ke langkah berikutnya. Tahap 1: Menentukan Kelompok Usia Anak Penyusunan rencana pembelajaran diawali dengan menentukan kelompok usia. Pengelompokan usia anak prasekolah mengacu pada Standar Nasional PAUD. Tahap 2: Menentukan Tingkat Pencapaian Perkembangan dan Indikator Kemampuan Tingkat pencapaian perkembangan menjabarkan tentang pertumbuhan dan perkembangan yang berhasil dicapai anak pada suatu tahap tertentu. Pertumbuhan dan perkembangan yang dicapai mencakup aspek nilai agama dan moral, fisik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, seni, kesehatan serta gizi anak. Setiap aspek perkembangan memuat indikator-indikator kemampuan. Indikator kemampuan dapat dipilih satu atau dua secara berurutan atau yang saling berkaitan. Indikator dapat dijadikan sebagai patokan atau dasar dalam mengembangkan kegiatan. Satu indikator dapat dikembangkan melalui berbagai macam kegiatan atau sebaliknya, satu kegiatan dapat mengembangkan berbagai indikator. Misalnya: Satu indikator dengan banyak kegiatan Aspek Indikator Kegiatan Fisik Melempar dan menangkap bola. • Melempar bola kedalam keranjang • Menangkap bola dengan dua tangan • Menangkap bola yang dipantulkan. • Melempar bola kearah teman. • Bermain bola basket Satu kegiatan mengembangkan banyak indikator Kegiatan Aspek Indikator Meronce Moral dan Nilai-nilai Agama • Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dan menghafalkan bacaan dan artinya • Dapat mengucapkan kata-kata santun (maaf, tolong) • Menghargai teman dan tidak memaksakan kehendak Fisik • Mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan rumit • Mengekspresikan diri dengan karya seni menggunakan berbagai media. Bahasa • Berbicara lancar dengan menggunakan kalimat yang kompleks • Menggunakan kata-kata yang menunjukkan urutan • Menjawab pertanyaan sederhana • Mengutarakan pendapat kepada orang lain • Dapat menceritakan hasil roncean Kognitif • Mencocokan, menunjukkan dan menyebutkan warna • Mencocokkan, menunjukkan dan menyebutkan macam-macam bentuk geometri. • Memahami konsep banyak/sedikit, kecil/besar, panjang/pendek, dll. • Mengklasifikasi benda berdasarkan warna atau bentuk atau ukuran. • Mengenal pola AB-AB atau ABC-ABC • Mengurutkan benda berdasarkan 5seriasi ukuran atau warna. • Membilang banyak benda satu sampai sepuluh • Mengenal konsep bilangan Sosial Emosional • Menunjukkan sikap mandiri dalam memilih kegiatan • Mau berbagi, menolong dan membantu teman • Menaati aturan yang berlaku dalam suatu permainan. • Bermain bersama dengan satu atau dua anak sedikitnya selama 15 menit • Senang menyelesaikan pekerjaan yang dipilihkan dengan giat • Ingin mengerjakan sesuatu sendiri • Menunjukkan rasa percaya diri • Menghargai orang lain. Seni • Meronce dengan berbagai alat dan bahan. Indikator yang belum dipilih digunakan untuk penyusunan rencana pembelajaran selanjutnya, dengan demikian dalam setahun semua indikator tercapai dan kemampuan anak dapat dikembangkan secara optimal. Tahap 3: Menetapkan Konsep Pengetahuan Yang Akan Dikenalkan dan Materi Kurikulum Tahap selanjutnya menetapkan konsep pengetahuan yang akan dibangun pada anak. Konsep pengetahuan ini mencakup: a. Keaksaraan, yakni: 1) Peningkatan atau perluasan kosa kata dan kemampuan bahasa anak, 2) Peningkatan pemahaman anak terhadap perbedaan bunyi setiap huruf, suku kata dan kata yang diucapkan, 3) Pengetahuan terhadap bahan cetak memuat pesan dan aturan 4) Pemahaman bahwa huruf adalah simbol dari bunyi tertentu, huruf dapat digabungkan menjadi kata yang memiliki makna tertentu, 5) Pemahaman terhadap makna setiap bahasa lisan maupun tulisan 6) Pemahaman tentang buku dan bahan cetak lainnya 7) Membangun sikap bahwa keaksaraan sebagai salah satu sumber pengetahuan yang menyenangkan b. Matematika, yakni: 1) Konsep bilangan 2) Pola dan hubungan 3) Bentuk Geometri dan Ruang 4) Pengukuran 5) Grafik c. Ilmu alam/sains, yakni: 1) Pengetahuan fisik 2) Pengetahuan tentang makhluk hidup 3) Alam dan lingkungan d. Ilmu sosial, yakni: 1) Tempat dan geografi 2) Orang-orang dan bagaimana mereka hidup 3) Orang-orang dan lingkungan 4) Orang-orang dan masa lalu e. Seni, yakni: 1) Menari 2) Menyanyi 3) Bermain musik 4) Membuat karya seni f. Teknologi, yakni: 1) Kesadaran akan teknologi yang digunakan di lingkungan rumah, dan sekolah dapat memudahkan pekerjaan kita 2) Dasar-dasar penggunaan alat-alat teknologi 3) Macam-macam alat teknologi 4) Penggunaan alat teknologi secara aman, sesuai dan merawatnya secara bertanggungjawab Materi kurikulum dikembangkan dari indikator kemampuan menjadi kemampuan yang lebih terukur dan dapat diamati. Materi kurikulum inilah sebagai dasar menyusun kegiatan-kegiatan main bagi anak di setiap sentra. Tahap 4: Menetapkan Tema Tema adalah pokok bahasan selama dalam kegiatan pembelajaran anak. Penentuan tema didiskusikan oleh guru berdasarkan masukan dari orangtua dan anak. Semua rencana pembelajaran baik yang ada di kelompok usia 2 – 3 tahun (kelompok toddler) maupun kelompok 3 – 6 tahun (kelompok prasekolah) menggunakan tema yang sama untuk waktu tertentu. Namun demikian untuk toddler tema tidak terlalu dipentingkan karena anak belum memahami, hanya bersifat pengenalan, yang terpenting adalah kegiatan main anak. Setiap tema dibahas selama anak tertarik terhadap pokok bahasan tersebut sehingga tema tidak kaku dan baku. Penentuan tema harus memperhatikan: 1. Minat atau ketertarikan anak 2. Usia dan tahap perkembangan anak 3. Memperkuat pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki anak 4. Ketersediaan sumber yang dapat dipelajari dan diamati anak (orang, tempat yang dapat dikunjungi, buku-buku tentang tema). 5. Ketersediaan media atau alat yang dapat dimainkan anak secara sendiri maupun berkelompok. 6. Mendukung pengetahuan dan aspek perkembangan anak 7. Nilai, kepercayaan, budaya yang berlaku di masyarakat. 8. Peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi saat itu yang berkaitan dengan kehidupan anak, misalnya tema banjir Tema tidak dijadikan patokan untuk pencapaian kemampuan yang harus dicapai anak, tetapi sebagai bingkai (framework) guru untuk memfasilitasi kegiatan main anak agar potensi yang dimilikinya dapat muncul. Tidak ada ketentuan untuk mengejar target kurikulum. Tahap 5: Menyusun Rencana Kegiatan Pembelajaran Tahap selanjutnya menyusun rencana kegiatan main yang akan dilakukan anak dalam ruang main/sentra. Kegiatan main yang disusun berdasarkan pada materi kurikulum dan sentra pembelajaran. Rencana kegiatan pembelajaran ini dapat digunakan sebagai rencana mingguan, karena indikator, konsep pengetahuan, materi pembelajaran, dan temanya dapat diulang-ulang selama seminggu, yang berbeda adalah kegiatan bermainnya. Tahap 6: Menyiapkan Alat dan Bahan Alat dan bahan main yang dipilih sebaiknya berasal dari alam dan bahan-bahan daur ulang, seperti: kayu, bambu, tanah liat, pasir, daun-daunan, biji-bijian, batu, kerang, kardus bekas, kotak bekas, sisa talang air, pipa paralon, payung rusak, kawat-kawat lunak, dsb sehingga memberi gagasan pada anak untuk menggunakan dalam banyak cara yang kreatif dan mendukung anak untuk membuat pilihan dan keputusan sendiri, merencanakan, meneliti dan menginvestigasi, menggali lebih dalam, bereksperimen, dan membangun pengetahuan baik secara sendiri maupun berkelompok dengan dukungan dan lingkungan yang sudah disiapkan guru. REFERENSI Badan Standarisasi Nasional Pendidikan, Pusat Kurikulum Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan MenengahKementrian Pendidikan Nasional, Lampiran Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini, 2010 Departemen Pendidikan Nasional, Menu generik, 2002 Dodge, Diane Trister, etcThe Creative Curriculum for Preschool; fourth edition. Teaching Strategies, Inc. Washington DC, 2002 Kostelnik, M.K., Soderman, A.K., dan Whiren, A.P. Developmentally Appropriate Curriculum. Best Practices in Early Childhood Education. New Jersey. Prentice Hall, 1999 Phelps, Beyond Centers & Circle Time: Scaffolding and Assessing the Play of Young Children. Tallahassee, Florida: CCCRT, 2005

Sabtu, 21 September 2013

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI

Pelaksanaan pembelajaran adalah operasionalisasi dari perencanaan pembelajaran. Oleh karenanya, pelaksanaan pembelajaran terkait erat dengan perencanaan yang telah dibuat. Hal ini berarti bahwa dalam pelaksanaanya akan sangat tergantung pada bagaimana perencanaan pengajaran yang merupakan implementasi kurikulum yang digunakan. Dalam pelaksanaan pembelajaran, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain, usia dan karakteristik anak, kebutuhan belajar, metode yang digunakan, waktu, lokasi pembelajaran, sarana prasarana, dan lain-lainl. Pendidik perlu memahami hakikat dan prinsip-prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran anak usia dini. Berdasarkan karakteristik anak usia dini yang sangat individual, pelaksanaan pembelajaran di kelompok bermain dibedakan berdasar kelompok usia 2-3 tahun dan kelompok usia 4-6 tahun. Prinsip-prinsip Pelaksanaan Pembelajaran Kegiatan main yang menyenangkan sebagai media pembelajaran pada anak usia dini harus mendasarkan pada prinsip-prinsip di bawah ini a. Berorientasi pada kebutuhan anak. Pada dasarnya setiap anak memiliki kebutuhan dasar yang sama seperti kebutuhan fisik, rasa aman, dihargai, tidak dibeda-bedakan, bersosialisasi, dan kebutuhan untuk diakui. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pendidikan anak usia dini pendidik harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan tidak membedakan anak satu dengan lainnya. Anak tidak bisa belajar dengan baik apabila lapar, merasa tidak aman/takut, lingkungan tidak sehat, tidak dihargai atau diacuhkan oleh pendidik atau temannya. Hukuman dan pujian tidak termasuk kebutuhan anak, karenanya pendidik tidak menggunakan keduanya. b. Sesuai dengan perkembangan anak. Anak akan siap belajar apabila dia sudah menguasai kemampuan sebelumnya, misalnya anak akan mampu menulis apabila perkembangan motorik halusnya sudah siap dan koordinasi mata dan tangan sudah baik. Oleh karena itu pendidik harus memahami tahap perkembangan anak. c. Sesuai dengan keunikan setiap individu. Anak merupakan individu unik yang memiliki gaya belajar berbeda. Ada anak belajar lebih mudah dengan cara mendengarkan (auditori), dengan melihat (visual) dan ada yang harus bergerak (kinestetik). Anak juga memiliki temperamen, bahasa, cara merespon lingkungan, kebiasaan, dan minat yang berbeda terhadap alat/ bahan yang dipelajari/yang digunakan. Pendidik seharusnya mempertimbangkan perbedaan individual anak serta mengakui perbedaan tersebut sebagai kekuatan masing-masing anak. Untuk mendukung hal tersebut pendidik harus menggunakan cara dan kegiatan main yang beragam dalam membangun pengalaman anak. d. Anak belajar dari yang konkrit ke abstrak, dari yang sederhana ke kompleks, dari gerakan ke verbal, dan dari diri sendiri ke sosial. Anak belajar mulai dari hal-hal yang paling konkrit yang dapat dirasakan oleh inderanya (dilihat, diraba, dicium, dicecap, didengar) ke hal-hal yang bersifat imajinasi. Misalnya anak usia 2 tahun belajar tentang buah apel dengan cara mengeksplorasi buah apel mainan melalui main peran, sedangkan anak usia 4 tahun dapat membayangkan buah apel dalam pikirannya lalu dituangkan ke dalam gambar, lukisan, playdough, dan lain-lain sebagai refleksi pikirannya. Anak juga belajar dari konsep yang paling sederhana ke konsep yang lebih rumit, misalnya mula-mula anak memahami apel sebagai buah kesukaannya, kemudian anak memahami apel sebagai buah yang berguna untuk kesehatannya. Kemampuan komunikasi anak dimulai dengan menggunakan bahasa tubuh lalu berkembang menggunakan bahasa lisan. Anak memahami lingkungannya dimulai dari hal-hal yang terkait dengan dirinya sendiri kemudian ke lingkungan dan orang-orang yang paling dekat dengan dirinya sampai kepada lingkungan yang lebih luas. Dengan demikian pendidik harus menyediakan alat-alat main yang paling konkrit, alat main yang bisa digunakan sebagai pengganti benda yang sesungguhnya, sampai alat dan bahan main yang mendukung imajinasi abstrak anak. Pendidik juga harus memahami bahasa tubuh anak dan membantu mengembangkan kemampuan bahasa anak melalui kegiatan main. e. Anak sebagai pembelajar aktif. Dalam proses pembelajaran, anak merupakan subjek/pelaku kegiatan dan pendidik merupakan fasilitator. Anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar, mempunyai banyak ide, dan tidak bisa diam dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu pendidik harus menyediakan berbagai alat, memberi kesempatan anak untuk memainkan berbagai alat main dengan berbagai cara dan memberikan waktu kepada anak untuk mengenal lingkungannya dengan caranya sendiri. Pendidik juga harus memahami dan tidak memaksakan anak untuk duduk diam tanpa aktivitas dalam waktu yang lama. f. Anak belajar melalui interaksi sosial baik dengan orang dewasa maupun dengan teman sebaya yang ada di lingkungannya. Salah satu cara anak belajar adalah dengan cara mengamati, meniru, dan melakukan. Orang dewasa dan teman-teman yang dekat dengan kehidupan anak merupakan obyek yang diamati dan ditiru anak. Melalui cara ini anak belajar cara bersikap, berkomunikasi, berempati, menghargai, atau pengetahuan dan keterampilan lainnya. Pendidik seharusnya memiliki waktu untuk berinteraksi dengan anak dalam kelompok besar, kelompok kecil, dan secara individu. Pendidik juga harus mendukung anak bermain sendiri, dengan kelompok kecil, dan bermain dengan kelompok besar. Selain itu pendidik harusnya memberi pengalaman kepada anak bermain dengan anak lain yang lebih kecil, sebaya, lebih besar, dan orang dewasa untuk membantu anak mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan kematangan emosinya. g. Menyediakan lingkungan yang mendukung proses belajar. Lingkungan merupakan sumber belajar yang sangat bermanfaat bagi anak. Lingkungan fisik berupa penataan ruangan, penataan alat main, benda-benda, perubahan benda (daun muda - daun tua, daun kering, dst), cara kerja benda (bola didorong akan menggelinding sedangkan kubus didorong akan menggeser, dst), dan lingkungan non fisik berupa kebiasaan orang-orang sekitar, suasana belajar (keramahan pendidik, pendidik yang siap membantu, dst). Pendidik seharusnya menata lingkungan yang menarik, menciptakan suasana hubungan yang hangat antar pendidik, pendidik dan anak dan anak dengan anak. Pendidik memfasilitasi anak untuk mendapatkan pengalaman belajar di dalam dan di luar ruangan secara seimbang dengan menggunakan benda-benda yang ada di lingkungan anak. Pendidik juga mengenalkan kebiasaan baik, nilai-nilai agama dan moral di setiap kesempatan dengan cara yang menyenangkan. h. Merangsang munculnya kreativitas dan inovasi. Pada dasarnya setiap anak memiliki potensi kreativitas yang sangat tinggi. Ketika anak diberi kesempatan untuk menggunakan berbagai bahan dalam kegiatan permainannya, maka anak akan dapat belajar tentang berbagai sifat dari bahan-bahan tersebut. Membolehkan anak bersentuhan dengan aneka bahan dengan berbagai jenis, tekstur, bentuk, ukuran, dll dapat mendorong anak menciptakan produk-produk baru dengan inovasi mereka setelah bereksplorasi dengan berbagai bahan tersebut. Pendidik perlu menghargai setiap kreasi anak apapun bentuknya sebagai wujud kreativitas mereka. Dengan kreativitas, anak akan dapat memiliki pribadi yang kreatif sehingga mereka dapat memecahkan persoalan kehidupan dengan cara-cara yang kreatif pula. Ide-ide kreatif dan inovatif mereka menjadi modal dasar seorang enterpreneur/wirausaha yang dapat meningkatkan perekonomian negara kelak. i. Mengembangkan kecakapan hidup anak. Kecakapan hidup merupakan keterampilan yang perlu dimiliki anak melalui pengembangan karakter. Karakter yang baik dapat dikembangkan dan dipupuk sehingga menjadi modal bagi masa depannya kelak. Kecakapan hidup diarahkan untuk membantu anak menjadi mandiri, tekun, bekerja keras, disiplin, jujur, percaya diri, dan mampu membangun hubungan dengan orang lain. Kecakapan hidup merupakan keterampilan dasar yang berguna bagi kehidupannya kelak. Ini akan sangat menunjang seseorang agar kelak dapat menjadi orang yang berhasil. Untuk itu pendidik harus percaya bahwa anak mampu melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Pendidik juga harus mendukung kemampuan kecakapan hidup melalui penataan lingkungan yang tepat, menyediakan kegiatan main yang beragam, serta menghargai apapun yang dihasilkan oleh anak. j. Menggunakan berbagai sumber dan media belajar yang ada di lingkungan sekitar. Sumber dan media belajar tidak terbatas pada alat dan media hasil pabrikan, tetapi dapat menggunakan berbagai bahan dan alat yang tersedia di lingkungan sepanjang tidak berbahaya bagi kesehatan anak. Air, tanah lempung, pasir, batu-batuan, kerang, daun-daunan, ranting, karton, botol-botol bekas, perca kain, baju bekas, sepatu bekas, dan banyak benda lainnya yang tertata dan direncanakan dengan baik sehingga anak belajar mengenal banyak konsep; matematika, sains, sosial, bahasa, dan seni. Dengan menggunakan bahan dan benda yang di sekitar, anak juga belajar menjaga lingkungan, pelestarian alam, dan lainnya. Sumber belajar juga tidak terbatas pada pendidik, tetapi orang-orang yang ada di sekitarnya. Misalnya anak dapat belajar tentang tugas dan cara kerja petani, peternak, polisi, pak pos, petugas pemadam kebakaran, dan lainnya dengan cara mengunjungi tempat kerja mereka atau mendatangkan mereka ke lembaga untuk menunjukkan kepada anak bagaimana mereka bekerja. k. Anak belajar sesuai dengan kondisi sosial budayanya. Kelompok bermain merupakan wahana anak tumbuh dan berkembang sesuai potensi dengan berdasarkan pada sosial budaya yang berlaku di lingkungan. Pendidik seharusnya mengenalkan budaya, kesenian, dolanan anak, baju daerah, dll dan menjadikannya bagian dari penataan lingkungan dan pembelajaran baik secara regular maupun melalui event tertentu. l. Melibatkan peran serta orangtua yang bekerjasama dengan para pendidik di Kelompok Bermain. Orangtua menjadi sumber informasi mengenai kebiasaan, kegemaran, ketidaksukaan anak, dan lain-lain yang digunakan pendidik dalam penyusunan program pembelajaran. Orangtua juga dilibatkan dalam memberikan keberlangsungan pendidikan anak di rumah. Lembaga harus memiliki jadwal pertemuan orang tua secara rutin untuk berbagi informasi tentang kebiasaan anak, kemajuan, kesulitan, rencana kegiatan bersama anak dan orang tua, serta harapan-harapan orang tua untuk perbaikan program. Adanya program orang tua menjadikan stimulasi yang anak dapatkan di lembaga dan di rumah menjadi sejalan dan saling menguatkan. m. Stimulasi pendidikan bersifat menyeluruh yang mencakup semua aspek perkembangan. Saat anak melakukan sesuatu sesungguhnya ia sedang mengembangkan berbagai aspek perkembangan/kecerdasannya. Misalnya saat anak makan, ia mengembangkan kemampuan bahasa (kosa kata tentang nama bahan makanan, jenis makanan, dsb), gerakan motorik halus (memegang sendok, membawa makanan ke mulut), kemampuan kognitif (membedakan jumlah makanan yang banyak dan sedikit), kemampuan sosial emosional (duduk dengan sopan, saling berbagi, saling menghargai keinginan teman), dan aspek moral (berdoa sebelum dan sesudah makan). Program pembelajaran dan kegiatan anak yang dikembangkan pendidik seharusnya ditujukan untuk mencapai kematangan semua aspek perkembangan. Selama anak bermain pendidik juga harus mengamati kegiatan anak untuk mengetahui indikator-indikator yang telah dicapai anak di setiap perkembangannya.

Jumat, 28 Desember 2012

Dasar Teori Prasekolah (anak usia 3-6 tahun)

Teori perkembangan anak berikut ini seharusnya digunakan untuk memberikan dasar bagi semua kegiatan di program prasekolah (diambil dari Pelaksanaan sebuah program keterlibatan awal dasar main yang sesuai perkembangan untuk anak usia dini dengan atau tanpa kebutuhan khusus – Model Program Creative, 1997). Prasekolah perlu untuk mengembangkan keterampilan sosialnya yang akan memungkinkan mereka untuk bermain dengan anak lain, Selama masa prasekolah, anak dianggap oleh Erikson sebagai masa “prakarsa vs bersalah” juga digambarkan sebagai masa “memiliki atau terasing.” menggunakan bahasa untuk memecahkan masalah mereka. Mereka juga perlu banyak kesempatan untuk mencoba kegiatan-kegiatan baru dan menjelajah. Anak prasekolah bisa terdengar bicara, “Saya bisa mengerjakannya” dan saat mereka dibolehkan untuk mengembangkan keterampilan sesuai kecepatannya sendiri, tanpa kritik dari orang dewasa, mereka akan menjaga perasaan positif akan dirinya. Rasa percaya diri, memiliki sikap “Saya dapat melakukan,” adalah penting bagi anak untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk keberhasilan di sekolah nanti. Selama tahap perkembangan ini penting sekali bahwa lingkungan memberikan kesempatan-kesempatan pada anak untuk mengalami perasaan akan keberhasilan. Semua kegiatan seharusnya direncanakan sehingga anak dapat merasa percaya diri dalam bekerja sesuai tingkat perkembangannya. Saat anak prasekolah dibolehkan untuk bermain yang mendukung, lingkungan yang positif dengan bahan-bahan, orang dewasa, dan anak lain, mereka akan mengembangkan ego yang kuat yang mendukung rasa memiliki dan mampu melaksanakan. Lingkungan bermain yang bermutu memberikan kesempatan-kesempatan bagi anak prasekolah untuk mengembangkan keterampilan main peran menggunakan bahan-bahan main peran makro dan mikro. Dalam main peran, anak dapat membelokkan kenyataan untuk mempersiapkan ego mereka. Erikson menyarankan bahwa melalui pengalaman-pengalaman main peran, anak mulai mengerti dunia di sekeliling mereka dan mengembangkan keterampilan sosial dengan anak lain. Selama tahap ini, anak terlibat dalam main peran dengan anak lain yang berkembang dari hubungan sosial main sendiri dan main berdampingan pada anak usia dua tahun ke perilaku sosial kerja sama, yang meliputi pengambilan peran, pemecahan masalah, dan rencana kelompok (Parten, 1932). Selama masa prasekolah, anak seharusnya diberikan kesempatan untuk melukis, membangun, menjelajah, dan berpura-pura baik sendiri maupun dengan anak lain. Piaget percaya bahwa anak berkembang melalui Teori Piaget menyarankan bahwa anak prasekolah harus bergerak dari tahap perkembangan kognisi sensorimotor ke dalam tahap pra-operasional. pengalaman langsung dengan bahan-bahan, anak-anak, dan orang dewasa. Menurut Piaget, anak harus dibolehkan untuk menemukan tiga jenis pengetahuan; sosial, logik/matematik, dan fisik( DeVries & Kohlberg, 1987). Ketika anak menciptakan pengetahuannya sendiri, pengertian mereka lebih lengkap dan dapat menggunakan pengetahuan untuk membangun konsep yang lebih rumit. Contoh: Orang dewasa meletakkan tiga loyang besar di atas sebuah meja, satu dengan sabun cair bening dan cat biru, satu dengan sabun cair bening dan cat kuning dan yang satu hanya dengan sabun cair bening. Anak akan mencampur warna biru dan kuning dan menemukan warna hijau. Contoh: Anak dibolehkan untuk bermain dengan balok-balok setiap hari. Saat anak sedang membangun dengan bahan-bahan main pembangunan, ia akan mengembangkan pengetahuan fisik dan logik/matematik mengenai angka, bentuk dan ukuran. Sara Smylansky, dalam penelitiannya menekankan pada perkembangan keterampilan main peran (1968), menyarankan bahwa Piaget menjelaskan tentang empat macam main dalam teorinya. Keempat macam jenis main ini adalah pembangunan, sensorimotor, main peran, dan permainan dengan aturan. Permainan dengan aturan sulit untuk anak prasekolah karena pemikiran pra-operasional anak belum sepenuhnya mengerti konsep menang dan kalah. Jenis main ini dapat diamati pada anak sekolah dasar yang secara perkembangan bergerak ke tahap pemikiran operasional nyata. Melalui pengalaman-pengalaman main peran, anak dapat belajar “keluar dari dirinya,” menerima sudut pandang orang lain, dan mengembangkan tiga jenis pengetahuan: sosial, logika/matematika, dan fisik. Pada pengalaman main pembangunan anak melatih keterampilan-keterampilan yang akan dibutuhkan dalam kerja sekolah nantinya. Selama pengalaman ini, anak berkembang dari pemain proses (main sensorimotor), yang melumuri cat untuk merasakan tekstur, ke pemain usia lima tahun yang datang ke tempat balok atau papan lukis dengan gagasan tertentu dan menghasilkan karya yang mewakilinya. Dr. Charles Wolfgang (1977) telah menempatkan bahan main pembangunan pada sebuah rangkaian yang berkelanjutan dari sifat cair ke terstruktur. Air, pasir, cat, spidol, krayon dan sebagainya, dianggap sebagai bahan main pembangunan sifat cair. Balok, LegoTM, dan bahan pembangunan lainnya yang memiliki bentuk yang telah ditentukan sebelumnya dianggap menjadi bahan pembangunan terstruktur. Kerja Anna Freud menyarankan bahwa anak berkembang dari bayi (yang terlibat dalam main tubuhnya dengan ibu jari, jari-jari dan sebagainya) ke perkembangan anak usia satu tahun yang belajar untuk menggunakan bahan main secara tepat, kemudian ke dalam pengalaman-pengalaman main dengan bahan-bahan main dan anak lain. Kerja Freud menguatkan teori Piaget dan Erikson dalam nilai bermain dan hubungan sosial dengan anak lain. Melalui penggunaan bahan main seharian dan kesempatan untuk bermain dengan anak lain, mereka akan mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk keberhasilan kerja sekolah nantinya. Kerja Lev Vygotsky dimulai tahun 1930-an dan berlanjut hingga kini memberikan keyakinan pada orang dewasa yang bekerja dengan anak usia dini bahwa anak adalah yang utama dan seharusnya dibolehkan berkembang sepenuhnya melalui pengalaman main dengan anak lain dan orang dewasa yang sesuai tahap perkembangannya. Ia percaya bahwa anak dengan kebutuhan khusus akan menghadapi hambatan kedua jika mereka tidak dibolehkan untuk berhubungan penuh dengan lingkungannya dan hambatan kedua ini akan menjadi lebih besar terhadap perkembangannya daripada kebutuhan khususnya. Vygotsky membahas “the zone of proximal development” yang mendukung kepercayaan bahwa orang dewasa, dapat dan harus memberi Vygotsky percaya bahwa anak dengan kebutuhan khusus seharusnya disertakan dalam semua pengalaman kebudayaan dengan teman sebaya mereka yang tipikal pijakan pada main anak. Orang dewasa setelah menyusun lingkungan bermain yang sesuai harus bertanya, mendukung, dan meluaskan kegiatan-kegiatan sambil membolehkan kekuatan anak. “Di kehidupan ini anak tidak dapat mengabaikan aturan, tetapi dalam bermain itu mungkin. Bermain menciptakan “zone of proximal development.” Dalam bermain, anak selalu berada di atas rata-rata usianya, di atas perilakunya sehari-hari; dalam bermain dia seolah-olah lebih matang dari sesungguhnya, misalnya dia bermain seperti mampu menulis. Tindakan dalam ruang lingkup khayalan, dalam keadaan berkhayal, ciptaan harapan-harapan pribadi, dan bentukan perencanaan kehidupan nyata dan “volitional motives,” semua ini muncul dalam bermain dan menjadikan tingkat perkembangan anak prasekolah yang tertinggi.” (Berk & Winsler, 1994)

Senin, 24 Desember 2012

Perkembangan Anak usia 12-24 bulan

Sumber: diambil dari George S. Morrison (1988), Education and Development of Infant, Toddler, and Preschoolers, Glenview, Illionis; Scott, Foresman and Co. Tahapan Usia Perkembangan Kognisi dan Tingkah Laku Percobaan 12 – 18 Bulan • Anak mulai melakukan percobaan aktif yang dibuktikan melalui kegiatan uji coba. • Anak mulai membedakan dirinya dari yang lain. • Anak memakai banyak waktu “melakukan percobaan” untuk melihat apa yang akan terjadi. • Anak sudah mengembangkan “ketetapan benda” (dapat menemukan benda-benda yang disembunyikan pada tempat persembunyian pertama). • Anak mulai memahami ruang, waktu, dan sebab akibat dalam hubungan ruang dan waktu. Kecerdasan Representasi 18 – 24 Bulan • Kombinasi pikiran anak dibuktikan dengan berpikir sebelum melakukan. • Perkembangan lebih lanjut hubungan sebab dan akibat. • Dapat membayangkan benda dalam pikirannya. • Tindakan meniru yang semakin simbolik. • Mulai merasakan tentang waktu (kapan sesuatu terjadi). • Ketetapan benda terus berkembang dan anak dapat menemukan benda yang beberapa kali disembunyikan. • Anak bersifat memikir diri sendiri saja; memandang dunia hanya dari sudut pandangnya saja. Teori Anna Freud dan Margaret Mahler memiliki kesamaan dengan teori Erikson dan Piaget yang sangat memperhatikan pentingnya lingkungan aman yang membolehkan anak untuk berlatih keterampilan-keterampilan baru dan melakukan percobaan dengan macam-macam bahan bermain. Anak yang masih merangkak dan/atau berjalan menjauhi pengasuhnya saat ia menjelajah dan melakukan percobaan. Selama masa ini pengasuh akan sering menemukan bahwa anak akan mudah terikat perhatiannya dengan mainan-mainan yang lembut atau selimut. Teori Anna Freud membuktikan bahwa melalui penciuman, perasaan, dan penglihatan, barang tersebut memberikan perasaan aman pada anak selagi ditinggal jauh dari kenyamanan langsung dari pengasuhnya. Anak yang baru berusia satu tahun akan bergerak terus menerus. Dia berpindah secara cepat dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Dia akan memanjat, menuang atau mengisi, merangkak, dan menjatuhkan segala sesuatu yang ditemukan. Anak ini menginginkan pengasuh dapat terlihat terus, meskipun dia berpindah semakin jauh, dan ini mengembangkan kepercayaan terhadap kemampuannya. Selama masa ini, anak terlibat dalam perilaku “mengisi kembali.” Contoh: anak akan menjauhi pengasuh dan menaiki mainan yang ada rodanya. Secara berkala anak akan menengok untuk meyakinkan bahwa pengasuhnya masih ada dan/atau akan kembali untuk menyentuh sebentar sebelum bergerak kembali ke kegiatan semula atau yang baru. Ini juga masa permainan “lari dan kejar.” Anak menikmati bila mencoba jauh dari pengasuhnya, sambil menengok dan tertawa. Menurut teori ini, kebutuhan tersebut, yaitu mencoba jauh terus dirangkul oleh pengasuhnya, akan mendukung keinginan anak mempunyai kekuatan atau penguasaan diri sementara ia juga terus membutuhkan hubungan aman dan rasa percaya. Selama masa ini, dia melatih keterampilan motorik dengan bergerak ke lingkungan yang lebih luas, anak mulai mengungkapkan dirinya dengan mengamuk. Ini adalah hal yang wajar dan tidak perlu dikhawatirkan. Pilihan dan kesempatan untuk mengendalikan kegiatan membantu anak dalam mengembangkan kepercayaan diri. Contoh: Anak kecil senang makan sendiri. Mereka akan menolak mengambil makanan dari sendok yang diberikan oleh pengasuh; oleh sebab itu makanan yang diambil dengan jari-jari dan kesempatan untuk makan sendiri memberikan kesempatan untuk memilih dan mengendalikan diri sendiri. Pengasuh harus menerima bila saat makan anak menjadi agak berantakan di tempat makan. Ketika anak hampir berusia dua tahun banyak pengasuh mengamati bahwa anak yang beberapa bulan yang lalu tidak ingin dipegang, atau pergi jauh setelah pengalaman singkat “mengisi kembali,” sekarang menginginkan perhatian pengasuh. Menurut teori Freud dan Mahler anak yang berlatih bergerak jauh dan mengembangkan pengertiannya tentang perpisahan dirinya dengan pengasuh. Anak yang hampir dua tahun kembali ke dalam masa dimana keinginan untuk mendapat perhatian dan hubungan dengan pengasuh menjadi penting. Bahasa dan bermain dengan pengasuh dan anak lain adalah bagian penting dari tahap perkembangan berikutnya. Dasar Teori Anak Usia Dua Tahun (24 –36 Bulan) Teori perkembangan anak berikut ini seharusnya digunakan sebagai dasar bagi semua kegiatan di program anak usia dua tahun. (Diambil dari The Infant/Toddler Training Module ditulis oleh CCCRT untuk Departemen Kesehatan dan Pelayanan Rehabilitasi Negara Bagian Florida tahun 1991). Anak selama usia 24 - 36 bulan dianggap oleh Erikson masih berada pada masa “penguasaan diri vs malu dan ragu.” Masa “penguasaan diri vs malu dan ragu” meluas pada usia dua belas bulan sampai dua puluh empat bulan dan terus hingga anak berusia tiga puluh enam bulan bersamaan dengan pengembangan bahasa dan awal latihan ke kamar mandi. Selama masa ini anak melanjutkan membangun kekuatan hubungannya yang telah berkembang di awal masa bayi. Jika lingkungan aman dan tetap serta telah berkembang rasa percaya terhadap orang dewasa di lingkungannya kemudian ke benda dan orang lain. Saat anak berhubungan dengan benda, anak lain, dan orang dewasa, penguasaan dan rasa percaya dirinya terbangun. Ketika bayi mulai merangkak kemudian berjalan, batasan-batasan harus ditata dan ditempat batasan-batasan itu kita dapat melihat jelas munculnya awal usaha keras bagi kekuatan atau “penguasaan diri.” Bayi dapat bergerak dan mudah dialihkan, anak usia satu tahun maunya tetap terus (ketekunan). Anak usia dua tahun mulai menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi ledakan amarah masih lazim. Anak ini sering mengucapkan kata “tidak” atau “punyaku.” Perkembangan bahasa merupakan metode yang paling penting dalam membantu anak menguasai dunianya. Dengan perkembangan bahasa anak dapat mengembangkan sebuah sistem simbol yang mewakili dunianya. Selama masa ini, anak masih sangat aktif. Hal ini penting, agar pengasuh terus menerus mendukung perkembangan keterampilan gerak dan mengendalikan tubuh. Pengasuh seharusnya tidak memaksakan, melatih berulang-ulang atau men-drill keterampilan tersebut. Ketika pengasuh memberikan kesempatan aman untuk anak berlatih supaya anak dapat mengendalikan kegiatan motorik sesuai kecepatannya, perkembangan pengendalian diri dan rasa menghargai diri yang kuat akan terdukung. Contoh: Sama dengan anak usia satu tahun, anak usia dua tahun juga senang sekali memanjat, oleh sebab itu pengasuh harus memberikan daerah yang aman untuk memanjat, seperti tangga dengan pegangan dan pijakan yang tepat ukuran dengan daerah jatuh yang aman atau tempat yang diberi bantalan dengan beberapa tingkatan. Bila pengasuh melakukan campur tangan secara berlebihan dalam melindungi, anak usia satu tahun dapat mengembangkan perasaan tidak mampu. Pengasuh harus menyediakan kesempatan yang aman, sesuai dengan perkembangan anak usia satu tahun untuk berlatih keterampilan motorik. Bila suara-suara kasar, pukulan atau hukuman digunakan untuk mengendalikan kegiatan anak usia satu tahun, rasa malu dan ragu terhadap kemampuan mereka dapat muncul. Ini berarti bahwa anak usia ini tidak boleh semaunya, tetapi pengasuh harus memberikan lingkungan yang aman sehingga mereka mempunyai kesempatan untuk memilih. Ketika anak dibolehkan untuk membuat pilihan di dalam batasan-batasan yang dapat diterima, kebutuhan untuk mengendalikan yang muncul pada tahap ini sudah terdukung dalam batas-batas yang ditentukan oleh orang dewasa. Menurut teori Erikson anak perlu dan mencari batasan-batasan. Batasan-batasan tersebut memberikan mereka keamanan. Saat anak ini dibolehkan melakukan kebebasan secara penuh, mereka dapat terperangkap dalam perebutan kekuatan yang sia-sia yang muncul terus menerus pada masa anak-anak. Selama anak usia dua tahun ini, pengasuh akan mulai melihat meningkatnya ketertarikan pada buku, lagu, puzzle, dan kegiatan-kegiatan yang sesuai lainnya. Teori Erikson menyarankan bahwa selama tahap ini anak membutuhkan banyak bahan yang membolehkan untuk membuat kembali pengalaman-pengalaman hidup yang nyata. Selama usia dua tahun, pengasuh akan mengamati munculnya main peran. Anak akan memainkan sebuah peran dan meniru tingkah laku orang lain yang telah dilihatnya. Contoh: Anak di usia ini belum memiliki rasa apakah ia laki-laki atau perempuan. Mereka akan memakai sepasang sepatu orang dewasa, meletakkan tas di tangannya, dan melambai sambil berkata, “Saya mau pergi ke toko!” Pengasuh harus mendukung awal munculnya main simbolik atau main peran ini. Perilaku-perilaku ini membantu anak usia dini memahami dunianya, mendukung perkembangan kognisi, sosial, emosi, dan bahasa. Contoh: Pengasuh yang terlibat akan memberi tanggapan dengan senyuman dan komentar seperti “Jangan pergi terlalu lama” atau “Bisakah kamu ambilkan aku susu.” Jika bahan-bahan main berukuran yang sesungguhnya seperti memakai pakaian, kompor, bak cuci piring, piring-piring, teko, dan lain sebagainya tersedia, anak terdukung dalam pengalaman main peran keluarga. Jenis main peran dalam ukuran yang sesungguhnya di sebut main peran makro. Anak usia ini menyenangi main peran ukuran mini dengan bahan-bahan ukuran kecil, seperti peternakan dengan binatang-binatangan atau rumah dengan perabot dan boneka orang-orangan. Dengan bahan-bahan main ini, anak memainkan pengalaman-pengalaman yang telah dimilikinya, dan meniru permainan pengasuh dan anak lain. Erikson menyebut ini main peran mikro. Teori Erikson menyarankan bahwa main peran dalam bentuk makro atau mikro membolehkan anak untuk mengulang pengalamannya, melepaskan bagian-bagiannya dan kadang-kadang mengaturnya kembali agar pengertiannya berkembang. Contoh: Anak yang pada awalnya menangis saat ibunya pergi kerja di pagi hari dapat memperlihatkan meletakkan boneka di tempat main peran makro di jendela dan berkata, “Lihat, ibu telah pergi kerja, jangan menangis sayang.” Pengalaman bermain ini mendukung perkembangan anak sepenuhnya dan seharusnya bermain menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Saat keterampilan main yang sebenarnya dengan anak lain dan orang dewasa, menggunakan bahasa, terbukti dalam permainan anak usia dua tahun, ia telah mulai bergerak ke tahapan perkembangan Erikson yang ketiga yang disebut “prakarsa vs bersalah.” Teori Erikson menyarankan bahwa tahap ini adalah satu hal yang sangat penting untuk perkembangan kemampuan sosial. Erikson mengatakan bahwa selama tahap ini anak mengembangkan rasa memiliki dengan orang lain atau rasa terasing. Pengetahuan ini seharusnya mendorong pengasuh untuk mencontohkan hubungan sosial yang tepat dengan anak dan orang dewasa lain dan mendukung hubungan sosial yang positif diantara anak. Anak belajar tentang dunianya melalui peranserta aktif langsung dengan benda, anak lain, dan orang dewasa. Kesempatan anak untuk bermain dengan berbagai macam mainan adalah sangat penting baik di dalam maupun di luar. Teori Piaget secara jelas memperlihatkan pada kita bahwa anak usia dini belajar melalui pengalaman-pengalaman yang terpadu. Anak yang lebih besar sering diberi pelajaran dan dilatih secara berulang-ulang atau di-drill. Penelitian sekarang memperlihatkan bahwa mungkin ini bukan metode yang terbaik untuk anak yang lebih besar dan ini pasti salah untuk anak Menurut teori Piaget anak usia dua tahun mulai memasuki tahap pra-operasional. usia dua tahun. Anak ini belajar melalui pengalaman langsung. Ia tidak belajar memahami warna melalui kegiatan-kegiatan yang diulang lainnya. Ia belajar tentang warna dengan membuat percobaan-percobaan selama kegiatan seharian yang biasa. Contoh: Anak usia ini belajar warna jingga saat pengasuh menggunakan nama warna (kapan saja kesempatan itu muncul) selama pengalaman makan. “Hari ini, kita punya tomat, warnanya merah, dapatkah kamu mengatakan merah, Ani?” (Ulangi usaha anak) “Merah, mari kita semua makan tomat merah.” (pengalaman langsung – bukan metode yang diulang atau di-drill). Anak belajar apa saja melalui hubungan langsung dengan bahan-bahan main, benda lain, orang dewasa, dan anak lain. Pengasuh harus menangkap setiap kesempatan untuk berhubungan dengan anak dengan Anak usia dua tahun adalah pembelajar yang interaktif. Agar mereka belajar mereka harus menyentuh, merasakan, melihat dan mendengar. menjelaskan, memberi nama dengan tindakan dengan ucapan, kejadian-kejadian dan objek-objek dan mendukung usaha mereka untuk belajar tentang lingkungannya. Teori Piaget juga menyarankan bahwa main peran anak seharusnya didukung, dan itu sangat penting dalam perkembangan kemampuan sosial, bahasa, dan keterampilan kognisi. Selama di tiga tahun kehidupan ini, anak bergerak dari perilaku sensorimotor bayi dan anak usia dua tahun ke tahap pra-operasional terus berlanjut untuk berkembang sampai kira-kira usia enam atau tujuh tahun. Selama bagian awal tahap perkembangan pra-operasional, anak usia dua tahun mulai menggunakan bahasa dan untuk membuktikan awal main peran. Selama tahap perkembangan ini keterlibatan orang dewasa yang mendukung adalah penting bagi anak untuk mengembangkan keterampilan main peran. Orang dewasa harus mencontohkan main peran untuk anak dan mendorong keikutsertaan anak. Contoh: Orang dewasa mengambil telepon mainan dan menempelkan di telinga, “Halo, halo, Fajar, ada?” Orang dewasa kemudian memberikan telepon ke Fajar, “Ini untukmu!.” Contoh: Saat anak dekat dengan boneka orang dewasa berkata, “Oh, bayinya menangis, ini botolnya, dapatkah kamu beri makan bayinya?” Saat anak didorong untuk menggunakan bahasa untuk mendapatkan kebutuhannya dan didukung oleh orang dewasa agar muncul main perannya, mereka akan mulai beralih dari tahap perkembangan sensorimotor ke tahap pra-operasional. Selama masa bayi dan masa usia satu tahun, pengasuh akan sering menemukan bahwa anak telah menjadi lekat pada mainan yang lembut, selimut atau bahkan pada dot. Teori Anna Freud menyarankan bahwa benda-benda ini, melalui penciuman, perabaan, penglihatan atau penghiduan, memberikan rasa aman pada anak bergerak keluar dari kenyamanan langsung pengasuh. Freud menyebut benda-benda ini objek-objek peralihan. Anak usia ini mungkin saja melanjutkan kebutuhannya akan objek peralihan selama masa tertekan atau selama istirahat. Bagaimanapun juga, objek-objek ini seharusnya tidak mengganggu dengan main sosial, bahasa atau perilaku aktif lainnya. Objek peralihan adalah penting, tetapi seiring dengan kematangan anak, kedekatan dengan objek dapat mengganggu perkembangan. Objek peralihan menarik anak kembali ke dalam dirinya. Seiring dengan perkembangan emosi dan sosial anak, menurut teori Anna Freud, anak harus bergerak dari kedekatan saling berhubungan untuk main dengan mainan dan kemudian main dengan orang lain. Selama bulan-bulan akhir masa anak usia satu tahun (usia 12 –24 bulan) banyak pengasuh mengamati bahwa anak ini, yang beberapa bulan lalu tidak menginginkan bantuan atau menolak setelah pengalamannya penuh secara singkat, sekarang mengharapkan perhatian pengasuhnya. Teori Freud dan Mahler menyarankan bahwa anak berlatih agar bergerak dan berkembang rasa pemisahan antara dirinya dan pengasuh. Anak bergerak maju ke usia dua tahun, bergerak kembali ke dalam masa dimana perhatian pengasuh dan berhubungan dengan kegiatannya adalah penting. Bahasa dan bermain dengan pengasuh dan anak lain adalah bagian penting pada tahap perkembangan selanjutnya. Berhubungan dengan pengasuh yang sayang dan memperhatikan akan mendukung usaha anak dalam mengembangkan keterampilan main dengan anak lain dan merasa kesadaran diri sendiri. Semua ahli teori telah menyarankan bahwa anak berkembang melalui hubungan dengan lingkungan dan saat berhubungan ini aman, penuh kasih sayang, dan sesuai untuk perkembangan anak, perkembangan anak sepenuhnya terdukung. Ketika pengasuh mengamati anak mulai bermain dengan anak lain, duduk dan melihat-lihat buku, memasang puzzle bersama, mendengarkan dan ikut serta dengan pengasuh berbagi musik dan bermain jari, secara simbolik mewakili dunianya melalui naskah main peran baik dengan bahan-bahan main peran makro dan mikro, dan menumpuk balok untuk kesenangan membangun dari pada merobohkan, perkembangan anak mulai beranjak ke usia tiga tahun. Keterampilan main ini, bukan keterampilan latihan ke kamar mandi, yang seharusnya dilihat untuk menentukan apakah anak sudah siap ke kelompok bermain. Latihan ke kamar mandi BUKAN sebuah persyaratan untuk peralihan ke kelompok bermain.